PENGHUJUNG DAHAGA

~Disclaimer

Cerita ini kutulis saat COVID merajalela, sekitar tahun 2020 dan kuunggah di salah satu aplikasi yang mungkin tak banyak orang tau. Pada akhirnya kuunggah kembali cerita ini di sini.

.

.

Hal yang paling membuat bahagia setelah panjangnya berpuasa adalah Idul Fitri. Tapi ada juga orang yang kurang bersemangat akan datangnya Hari Raya Idul Fitri, karena masih terlalu sangat nyaman dengan Ramadhan bulan yang penuh berkah.

Tapi keadaan sekarang berbeda karena adanya Virus COVID-19, Virus yang memisahkan keluarga yang jauh disana agar tidak pulang kampung, karena memang itulah anjuran pemerintah kepada rakyatnya.

Hal itu berdampak juga padaku, yang Merayakan Hari Raya Idul Fitri tanpa kehadiran sosok Kakak. Tau ketika dapat kabar ia tidak bisa pulang, hati rasanya sesak, air mata pun tiba - tiba terjatuh lantaran menahan rindu yang berat. Tapi otak kembali berputar, ketika keselamatan dan kesehatan adalah hal yang utama.

Beberapa hari kemudian, Bapak jatuh sakit, tapi ia tetap saja menahan dan menopang badannya agar tetap seimbang mencari nafkah. Kasihan? tentu! Anak mana yang tega melihat orang tuanya yang sedang sakit tetap rela bekerja demi memberi makan keluarga. Sebagai anak hanya bisa berdo'a. Alhamdulillahnya Bapak lekas sembuh dan memberikan keceriannya lagi.

Tak lama dari kesembuhan Bapak, dapat kabar lewat via Telepon bahwa Kakak juga jatuh sakit. Aku melirik mata Mamahku dan kudapati matanya berembun ketika mendapat kabar itu. Bagaimana tidak ... jika anaknya jatuh sakit tapi tak ada orang yang menjaganya, bahkan ia pun tak bisa merawat dan menjaga pastilah hati semakin berat merasa kasihan.

Entah mengapa kepalaku berat, pusing kliengan, panas. Dan ternyata aku juga ikut sakit. Untungnya Kakak ku sudah sembuh. Entahlah, sakit ketika dalam keadaan bulan Ramadhan, sakit itu menjadi sangat sakit dan pada akhirnya mokel dong hehe. Teringat keadaan Kakak yang sakit dan jauh dari keluarga, membuat badan dan hatiku sangat sakitttt. Sempat di bawa ke Klinik terdekat dua kali tapi gak dirawat. Alhamdulillahnya sembuh, setelah terbaring dan minum obat kurang lebih lima hari.

Baru saja aku sembuh eeeh Mamah ku ketularan sakit. Kenapa ya Allah Mamah ku ikutan sakit. Dan kali ini yang paling parah Sakitnya Mamah, kenapa? Karena sampai sekarang di Penghujung Dahaga pun ia masih terbaring sakit. Sempat rawat jalan di Bidan Desa tapi hasilnya Nihil. Terus dilarikan ke Klinik dan dirawat selama sehari semalam tapi tetap hasilnya gak sembuh. 

Waktu itu aku disuruh ngambil pakaian ganti ke rumah. Tapi setelah aku sampek ke Klinik baru depan pintu udah di hadang Bapak. 

"Mamak mau di rujuk ke RS" kata Bapak.

"Haa?! Kok bisa?" Tanyaku syokk

"Yooo wes, sekarang balik lagi ambil baju ganti lagi. Terus nanti ke Klinik suruh nganterin lelek apa tetangga yoo" suruh Bapak sambil merangkul bahuku menuju ke tempat parkir

Kalian tau gaess apa yang terjadi di jalan? Aku Gagal Fokus, di kalkson oleh motor di belakangku karena ngawur kalau naik motor. Gimana gak ngawur coba? Orang nyetir kok sambil nangis. Entah mengapa tiba - tiba dadaku sesak, air mata pun menetes dan hilang di tengah jalan. Dan bahkan aku nulis ini air mataku mengalir. Bismillah semoga kuat.

Mencoba untuk kuat, tapi alhasil hati dan mata tidak bisa dibohongi.

Tiba di RS, IGD adalah ruangan pertama pasien yang hendak masuk rumah sakit. Karena hanya satu orang aja yang di bolehin masuk, jadi Aku nunggu di luar dan Bapak yang nunggu Mamah di ruangan.

Langsung Aku Video Call mamas dan menceritakan kembali kejadiannya, eeeehh gak sadar mewek lagi. Entahlah hatiku terlalu lemah jika menyangkut Keluarga.

Rasa kasihan, gak tega selalu ada. Sampai sekarang malam takbiran di ruangan RS hanya di huni oleh Mamahku, Bapakku, dan Aku. Karena pasien yang lain sudah diperbolehkan pulang dan menikmati Idul Fitri bersama keluarga.

Pasti enak jadi kalian yang Idul Fitri bisa kumpul dengan keluarga. Beda denganku, yang merayakan malam takbiran dan Hari Raya Idul Fitri di Rumah Sakit. Meskipun Aku disini bersama kedua orang tuaku, tapi Ramadhan dan Lebaran tahun ini sangatlah tak menyenangkan. Seumur hidup baru kali ini ngerasain Lebaran tanpa kumpul dengan Keluarga Besar.

Tapi lebih menyakitkan lagi jika Aku pulang dan merayakannya hanya seorang diri. Kepikiran kalau abis solat Ied, buka pintu terus gak ada orang ya Allah sakitt. Ngebayanginnya aja udah nambah deres nii air mata.

.

.

Intinya Aku nulis cerita ini hanya sekedar curhat semata. Dan ingin mengucapkan Minal Aidzin Wal Faidzin (Mohon maaf lahir dan batin). Do'ain juga biar Mamahku cepat sembuh yaa...Terimakasih^_^

Yang lagi kumpul merayakan Lebaran dengan Keluarga. Ingat! Keluarga adalah Rumah bagi kalian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MUDAH MENULIS KARYA DENGAN WATTPAD